Penyiar Radio, Pekerjaan Menyenangkan


297144_2272033092722_1502769320_n

Ini hanya sementara, aku akan kembali ke meja ini

Pernahkah terlintas di pikiran anda ingin menjadi seorang penyiar radio? Entah itu penyiar radio kawula muda atau radio berita yang penuh dengan informasi terkini.. Kalau pernah, anda patut membaca tulisanku ini, step by step aku akan berbagi mengenai dunia kepenyiaran :)

Sebelumnya aku ingin kilas balik mengenai perjalananku di dunia broadcasting yang membuatku jatuh cinta dengan dunia ini. Tahun 2004 lalu aku SAH menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di kota Palembang. Berbagai unit kegiatan mahasiswa kuikuti, salah satunya UKM Radio, Blue Ozon Station namanya atau disingkat menjadi BOZS FM. Pada awalnya hanya iseng, mungkin saat itu aku tergolong orang yang kemaruk dengan semua kegiatan kampus. Di UKM ini diajarkan cara berorganisasi dengan baik. Banyak yang dipelajari di sini, hingga akhirnya aku memperoleh jadwal siaran setiap hari rabu. Meskipun suaraku hanya bisa didengar oleh kalangan mahasiswa yang ada di sekitar kampus, tapi rasanya sudah berbangga hati. Saat itu, Radio BOZS FM satu-satunya UKM yang bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswa yang menjangkau seluruh fakultas.

Banyak pelajaran yang aku peroleh secara gratis di UKM BOZS FM, hingga akhirnya menguatkan nyaliku untuk mengikuti audisi penyiar yang diadakan oleh REAL Radio 97.5 FM di tahun 2006. Saat itu sekitar dua ratusan lebih peserta yang mengikuti audisi yang diadakan di sebuah cafe salah satu mall di kota Palembang. Hingga giliranku tiba, dengan modal kepercayaan diri, aku tampil dengan apa adanya aku. Ada juga sesi unjuk bakat. Aku menyanyikan lagu Segitiga dari Cokelat Band sambil solo gitar listrik yang untuk pertama kalinya kumainkan. Ternyata juri (pada saat itu ada bang Indra Bunayu, bang Omar dan yang satunya saya lupa siapa namanya.. hehe..) memilihku untuk bergabung dalam 35 orang yang terpilih, salah satunya ada Putri Syahrial, Dede Malik, Abe Pane, dll yang tak saya ingat lagi namanya. Kurang lebih tiga bulan siaran di radio ini membawakan program School Visit School pukul 14-16 sore setiap hari. Entah kenapa, pergaulan dengan teman-teman di sana bertolak belakang bagi pemahamanku yang pada saat itu juga aktif dalam organisasi sosial. Aku memutuskan untuk keluar dengan cara yang kurang baik saat itu, menghilang dan tidak pernah hadir dalam rapat mingguan *(bagian ini jangan dicontoh yah).

Tiga bulan terjun di dunia broadcast komersil membuatku semakin tertantang untuk menjajaki dunia ini lebih dalam lagi. Kali ini aku mencoba peruntungan mengikuti audisi di Radio Elita 98.3 FM Palembang. Sama seperti sebelumnya, lagi-lagi jumlah peserta audisi yang membludak. Dari sekian banyak peserta, aku terpilih dalam 5 peserta terakhir. Saat itu bersamaan dengan Mayang Ismed dan yang tiga orang lagi (aku juga sudah lupa namanya hehe..) Mayang yang paling ingat, karena saat audisi kami duduk bersebelahan dan ngobrol banyak. Ternyata, aku tak terpilih hanya karena satu pertanyaan dari Om Aan; “anda ke sini naik apa?” Dengan polos aku menjawab “bis kota” *Hmm.. Aku rasa tak ada yang salah dengan jawaban itu bukan? Entahlah :)

Masih di tahun yang sama, lagi-lagi seniorku (Kiki Florin a.k.a Cek Nona di Radio Ramona Palembang) mengajak untuk mengikuti audisi di Radio La Nugraha 105 FM Palembang. Aku tak tahu itu radio apa. Niatku hanya untuk menemaninya dan meramaikan suasana saja, kebetulan hari itu aku bebas dari kegiatan kuliah dan organisasi luar kampus.  Hari itu aku membuat surat lamaran dan CV. Hari itu juga aku harus menerima kenyataan harus berdiri pada barisan ke seratus sekian. Ternyata minat anak muda untuk menjadi seorang penyiar radio begitu besar. Berminggu-minggu audisi ini dilakukan, dengan penyaringan peserta yang lumayan ribet. Dimulai dari tes tertulis, take voice, wawancara dengan bang Heri Irawan dan hingga akhirnya aku masuk dalam 5 besar (katakanlah finalis :)) Ada Negar, Visca, Barbara, aku dan Vere yang diperkenankan wawancara langsung dengan owner. Tapi sangat disayangkan, yang terpilih hanya Negar, Visca dan Vere. Aku dan Ara yang sama-sama tidak berkerudung tak terpilih. Yah, apa boleh buat, yang penting aku sudah berusaha. Toh ini hanya sekedar iseng-iseng berhadiah mencoba peruntungan ujarku membesarkan hati.

Dari iseng-iseng berubah menjadi pesimis. Aku sadar, aku tidak terpilih karena aku sudah menyia-nyiakan kesempatan di Real radio kemarin. Aku juga tidak terpilih karena aku kurang paham dengan stasiun radio itu. Jujur, dari awal kepindahanku ke kota ini, aku hanya menyukai satu stasiun radio, Warastra Female 90 FM Palembang. Hampir semua penyiarnya kusuka. Dina Olivia, Lily Tobing, Syifa Faradilla, Leni Hasan, Arlin Keisya, Lita Maulita, Lana Surya, Anggi Amaraz. Suara mereka memberikan imajinasi eksklusif kepadaku, dengan bayangan setiap kali siaran, mereka berpakaian rapi dengan stelan blazer bak penyiar televisi pada umumnya. Suara mereka cantik, pasti juga parasnya. Radio ini terdengar berbeda, penyiarnya bertutur kata baik dan santun. Smiling voicenya terdengar khas. Penyampaian informasinya juga berbeda dengan radio-radio lain yang ada di kota ini.

Tanpa sengaja aku mendengar lowongan pekerjaan sebagai penyiar di Radio Warastra Female ini. Sikap pesimisku terkalahkan oleh rasa penasaran akan radio ini. Aku pikir, aku harus mencoba apapun hasilnya. Ternyata jumlah peserta audisi tak sebanyak radio yang sebelumnya pernah kuikuti. Mungkin karena segmentasinya berbeda, ini radio dewasa. Ekspetasiku, hanya anak muda yang berpikiran dewasa yang suka mendengarkan radio ini, sehingga yang mengikuti audisi juga sedikit, ada sekitar 38 orang. Tapi yang membuatku ketar-ketir, di antara 38 orang peserta itu mereka bercakap-cakap dengan bahasa inggris. Sementara englishku carut-marut. Bagaimana aku bisa bergabung dengan mereka? Ditambah lagi dengan tampang tomboy kucel yang kumiliki, membuat semakin down. Ya, mau tak mau harus tetap maju walaupun langkah kaki ini sudah setengah gentar.

Tuhan berkata lain kali ini. Aku terpilih! Dari 38 orang peserta dipilih hanya 4 orang (bersama Elva Mozza, Desi Arisna, Nitra Andini). Tahun 2007 aku bergabung di radio ini dengan status trainee selama tiga bulan sebelum akhirnya diangkat menjadi penyiar freelance. Minggu pertama berlalu hingga akhirnya Nitra Andini keluar dengan alasan yang kurang kumengerti. Kami tinggal bertiga. Di awal pelatihan banyak diskriminasi yang kurasakan. Aku, yang memiliki suara pas-pasan selalu dibanding-bandingkan dengan kedua temanku. Ku akui, mereka memang lebih unggul. Cambukan yang sangat sakit ketika mendengar ucapan dari Ferdy Ramzi bahwa suaraku seperti “kaleng kosong” ketika dilemparkan. Suaranya berisik, cempreng dan tak enak didengar. Jujur, aku hampir menangis. Ini benar-benar penghinaan yang kejam. Aku dipermalukan di depan rekan-rekan lain.
Aku rasa, sudah cukup di minggu kedua saja. Aku harus menunjukkan kepada mereka, bahwa aku berbeda dari kedua temanku dan aku bisa lebih unggul. Biasanya setiap hari sabtu diadakan rapat mingguan yang dihadiri oleh seluruh penyiar dan Kak Reza (Manajer) radio ini. Benar, pembuktian ini membuahkan hasil. Kini giliranku yang mendapat bertubi-tubi pujian dari sang manajer dengan perkembangan yang pesat. Ferdy Ramzi berujar, hinaan itu tak sesungguhnya, itu hanya taktik untuk membuatmu menjadi lebih baik. Aku tersenyum.

Selama beberapa minggu kami dilatih oleh senior yang sudah ditentukan. Aku mendapat kesempatan jadwal siaran bersama penyiar favoritku, Dina Olivia dan Lily Tobing. Berjam-jam aku betah berlama-lama memperhatikan apa yang mereka lakukan. Cara mereka berbicara, cara mereka memulai, cara mereka menyampaikan, cara mereka menyapa, cara mereka berinteraksi dsb. Aku mencuri. Aku mencuri semua cara mereka. Seperti mengcopy dan mem-paste nya pada diriku sendiri. Mereka datang, aku datang. Mereka pulang, baru aku pulang. Mungkin mereka bosan melihatku setiap kali siaran. Tapi persetan dengan yang ada di otak mereka, fokusku adalah mencuri cara mereka. Hasilnya, aku menjadi duplikat mereka.

Aku bukan manusia yang bodoh. Dua penyiar yang berbeda, pasti memiliki cara dan style yang berbeda pula. Ini namanya menyelam sambil minum air. Kugabungkan keduanya dan jadilah Aku. Aditha Rachman, itu nama siarku atas saran dari Ferdy Ramzi. Aku berjalan dari tertatih hingga akhirnya aku berlari kencang. Itu berkat mereka berdua, guruku yang dengan diam-diam kucuri semua ilmunya. Tidak hanya sampai disitu aku mencuri, setiap kali Lily Tobing mengerjakan produksi pembuatan iklan, aku selalu nimbrung. Kuamati setiap klik yang dilakukannya. Sedikit banyak aku paham bagaimana membuat iklan dengan program cool edit pro. Dan ada tiga iklan buatanku yang dipakai saat itu :)

Aku tidak puas sampai di sini. Aku selalu melatih dan mengeksplor kemampuanku ketika siaran. Setiap rapat bulanan aku selalu merengek minta dikritik oleh rekan-rekan dan seniorku. Sampai mereka heran dengan caraku. Aku haus akan kritikan. Karena dengan cara seperti itu aku bisa memperbaiki diriku. Tak sedikit pujian yang aku terima, terlebih dari bosku sendiri. Banyak pendengar yang mengenal namaku saat itu yang menjadikan aku sebagai penyiar favorit mereka. Tapi aku tak mau besar kepala, aku tetap rendah hati dan tetap terus berlatih meskipun sudah empat tahun aku siaran di radio ini. Bersama rekanku Haikal Mustafa, aku mencoba mengeskplor cara siaranku. Siaran berdua ternyata lebih asyik. Ada komunikasi yang baik di sana. Hingga setiap senin, kami berceloteh bersama.

Banyak yang aku dapatkan di radio ini. Hingga di tahun kelima kejenuhan itu datang menghampiri. Aku ingin mencoba hal baru, terutama di radio news (berita). Tepat pada Mei 2011 aku resmi resign dari Radio Warastra Female dan bergabung menjadi News Announcer di Radio SmartFM Palembang. Di sana aku benar-benar belajar dari awal. Cara menulis berita, membaca berita, membuat berita, editing berita dsb. Ya, ini ilmu baru yang aku miliki. Aku semakin cinta dengan dunia kepenyiaran. Sayangnya hanya setengah tahun aku di radio smart ini. Aku harus melanjutkan studiku ke jenjang S2 dan menetap di Semarang. Pengalamanku selama lima tahun terakhir (2007-2011) memberikan pelajaran berharga yang sampai saat ini bisa bermanfaat bagiku. Salah satunya saja, saat presentasi di depan kelas, aku juaranya :) Memulai pembicaraan dengan orang asing yang baru aku kenal, aku jagonya :)

Aku sudah kepalang jatuh cinta dengan dunia kepenyiaran. Kalau masih diberi kesempatan, selepas kuliahku nanti, aku ingin kembali menjadi penyiar, walau hanya seminggu sekali dan hanya mendapatkan jatah satu jam. Itu sudah lebih dari cukup. Pengalaman-pengalaman lainnya selama aku menjadi penyiar akan kubagi dalam blog ini. Pastinya harus sabar menunggu postingan berikutnya, karena akan kumuat secara bertahap (tergantung moodnya hehe..)

Bersambung..

*(Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi yang aku jalani. Mohon maaf apabila ada pihak yang tersinggung, ini hanya ajang berbagi pengalaman dengan pembaca. Satu lagi, aku ingin mengabadikan kisah ini agar  jika aku pikun nanti, aku masih bisa mengingat bagian ini dengan membaca blogku sendiri).